Penanya:
Ustadz, Apa Hukumnya tukar kado yang biasa dilakukan anak sekolah setiap akhir tahun ajaran?
Jawaban:
Bismillâh. Wash shalâtu wassalâmu 'alâ Rasûlillâhi, wa ba'du.
Kita harus bedakan antara hadiah dan bai' (jual beli).
Kalau hadiah itu,
تمليك عين بلا عوض مع النقل إلى مكان الموهوب له إكراما
“kepemilikan atas sesuatu 'ain (barang atau jasa) tanpa memberi ganti, beserta pindahnya 'ain yang dihadiahkan ke tangan orang yang diberi hadiah sebagai bentuk ikram (penghormatan/memuliakan).” [Al Mausû'ah al Kuwaitiyyah, 42/252]
Dalam tukar menukar hadiah tak dipersyaratkan ijab qabul. Sementara jual beli dan hibah ada syarat ijab qabul.
Imam an-Nawawi dalam Minhajnya mengatakan :
وشرط الهبة إيجاب وقبول لفظا ولا يشترطان في الهدية
“Disyaratkan ijab qabul secara lafazh dalam akad hibah namun tidak disyaratkan dalam hadiah” [Minhaj ath-Thalibin, 1/171]
Sementara Jual beli itu,
وشرعا مبادلة مال بطريق الاكتساب.
“(Jual beli) menurut syariat adalah mengganti harta dengan harta dengan maksud komersil, yaitu mencari keuntungan." [Al-Mausû'ah al-Kuwaitiyyah, 5/9].
أي التجارة خرج به مبادلة رجلين بمالهما بطريق التبرع أو الهبة بشرط العوض فإنه ليس ببيع ابتداء
"(Yaitu tijarah/perdagangan) Tidak termasuk jual beli apabila dua orang saling menukar harta dengan akad tabarru' (sosial), atau hibah dengan syarat ada ganti, karena sejak awal bukan akad jual beli.” [Durar al Hikam, 2/142]
Secara substansi, tukar menukar kado (hadiah) tidaklah sama dengan jual beli, sebagaimana dijelaskan di atas. Ia bukan berniat untuk komersil, namun semata-mata karena rasa saling sayang dan hormat. Dan juga tak dipersyaratkan ucapan ijab qabul. Secara 'Urf juga itu tak diniatkan untuk komersil.
Tujuan dari akad adalah memberi hadiah walaupun adanya sharf (pertukaran) disana. Maka yang dihitung adalah tujuannya ini.
Kaidah mengatakan,
العبرة في الغقود للقاصد والمعاني لا للألفاظ والمباني
"Ibrah itu yang dihitung dalam suatu akad adalah maksud dan makna, bukan lafazh dan bentuk."
Lalu apakah ada gharar?
Jawabnya: Dalam akad hadiah tak ada gharar! Pemberi bebas memberi apa saja. Si penerima pun tak harus tahu hadiahnya apa. Tak ada syarat untuk tahu. Karena tak ada ijab qabul dalam serah terima itu, maka tak terjadi gharar.
Namun perlu diingat, bertukar kado pun bisa jadi transaksi jual beli jika dari awal sudah berniat mencari keuntungan dan dalam akadnya meminta ganti dari pihak penerima hadiah.
Pada kasus tukar menukar kado, kami memandang ia tak sama dengan akad bai' sebagaimana kami jelaskan alasannya di atas, sepanjang syaratnya terpenuhi; bukan berniat komersil, tak ada ijab qabul, dan tak mempersyaratkan adanya pengganti ditambah dengan keuntungan yang didapat.
Wallahu Waliyyut Taufiiq
Al Faqiir,
Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, MA.
Komentar
Posting Komentar