*KENYANG*
Oleh : *_Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar_*
Setiap hari hampir sama. Kita membuka mata, merapal beberapa dzikir dan do'a. Terus tenggelam dalam rutinitas pagi yg melelahkan. Bahkan tak sedikit dari kita memulainya dgn bermuram dan bermasam muka.
Nyaris kurang keberkahannya. Sebagian memang bisa membuka mushhaf, baca satu-dua ayat. Setelah itu "kenyang" dan beranjak pada agenda lain yg katanya "positif" juga.
Dzhuhur menjelang, kenyang perut kita setelah makan. "kenyang" pula kita oleh aktivitas. Menjadilah alasan kita absen dari majelis ilmu, karena kita merasa "kenyang" dari menuntut ilmu.
Ashar menawarkan harapan. Sebentar lagi kita sampai di rumah melepas penat. Berat langkah kaki kita berwudhu dan menyempurnakan shalat di awal waktu. Perasaan, hari2 lalu kita jarang terlambat shalat, maka menjadilah pemaafan untuk berleha karena kita telah "kenyang" dgn amalan shalih yg lalu.
Sebagian kita bergelut dgn tugas2 kuliah. Bahagian lagi berkutat di dapur. Ada juga yg menyalurkan hobi kesana-kemari. Padahal ada MP3 untuk memuraja'ah hafalan. Ada buku yg siap dibuka sampulnya untuk dibuka, ia teronggok lama tak tersentuh di lemari. Namun nampaknya mereka telah "kenyang" dari muraja'ah dan menuntut ilmu.
Maghrib datang. Tanduk Syaithan muncul. Makhluq jahat bertebaran. Nyaris saja tanpa minta penjagaan, karena merasa "kenyang" dgn seabreg agenda harian.
Syafaq merah telah menghilang. Mulailah kelelahan. Adzan bersahutan, benar2 tak menggetarkan bagi banyak mereka bahkan mungkin kita. Pasca itu, tertidur nyaris tanpa dzikir, witir, muraja'ah hafalan, dan baca buku. Karena itu tadi, "kenyang" dgn agenda yg sebenarnya penuh dgn isi status medsos atau buka gadget..
Begitu penuh "lambung" ilmu dan amal mereka, hingga secuil nasehat saja bak petir menyambar di siang bolong. Begitu merasa tersakiti. Karena tadi, telah merasa "kenyang" dgn segala kebaikan hingga "tak berhak" diberi nasehat lagi.
Bukan, itu bukan ketawadhu'an. Bukan pula jadi alasan. Namun itu bagian dari kesombongan dan keberpalingan. I'radh dari jalan Allah.
Bagaimana ia berhujjah, "saya awam", sementara semua fasilitas tersedia disisinya. Ada google. Ada rumpian kawan. Ada ilmu yg bertebaran. Ada majelis2 ilmu. Namun dasar "lambung" ilmu dan amalnya terasa telah kenyang dari semua itu..
Teringat dgn KalamNya..
ﺳَﺄَﺻْﺮِﻑُ ﻋَﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻲَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘَﻜَﺒَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﻛُﻞَّ ﺁﻳَﺔٍ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﺍﻟﺮُّﺷْﺪِ ﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭﻩُ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﺍﻟْﻐَﻲِّ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭﻩُ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺬَّﺑُﻮﺍ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻏَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (Al-A'raf : 146)
Sebenarnya "lambung" mereka kenyang oleh apa?
Sebab tak demikian sifat yg dilukiskan Rasul tercinta shallaLlahu 'alayhi wasallam.
منهومان لا يشبعان : طالب علم وطالب دنيا
"Ada 2 orang yg begitu rakus dan tak pernah merasa kenyang: *penuntut ilmu (agama) dan pencari dunia*. (HR. Hakim)
Kalau mereka "kenyang" dari ilmu, maka mafhumnya adalah mereka bukan penuntut ilmu. Kalu bukan penuntut ilmu, maka berdasar hadits di atas ia berpredikat pencari dunia.
Ternyata, bukan mereka yg dilihat terlalu berlebihan dalam ilmu dan ibadah, namun orang2 inilah yg terlalu lekat dgn dunia dan merasa *"kenyang"* dari ilmu dan ibadah.
Itu bagian dari kesombongan dan keberpalingan. Mereka akan selalu tertutup dari ilmu dan hidayah selama masih ada sifat itu. Dan mereka akan bersimbah dgn "kepahitan" meski di tengah keberlimpahan, tiada lain karena keberpalingannya..
ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِﻱ ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻪُ ﻣَﻌِﻴﺸَﺔً ﺿَﻨْﻜًﺎ ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻩُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺃَﻋْﻤَﻰٰ
124. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaha : 124)
Teruslah rakus dalam menuntut ilmu. Teruslah istiqamah dalam menghamba padaNya. Sebab keberpalingan kita akan hal demikian dgn alasan "kenyang", akan membuat hati kita mati berkali². Dan itu lebih berat dari hidup itu sendiri..
اللهم اهدنا إلى سبيل الرشاد...
آمين
Oleh : *_Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar_*
Setiap hari hampir sama. Kita membuka mata, merapal beberapa dzikir dan do'a. Terus tenggelam dalam rutinitas pagi yg melelahkan. Bahkan tak sedikit dari kita memulainya dgn bermuram dan bermasam muka.
Nyaris kurang keberkahannya. Sebagian memang bisa membuka mushhaf, baca satu-dua ayat. Setelah itu "kenyang" dan beranjak pada agenda lain yg katanya "positif" juga.
Dzhuhur menjelang, kenyang perut kita setelah makan. "kenyang" pula kita oleh aktivitas. Menjadilah alasan kita absen dari majelis ilmu, karena kita merasa "kenyang" dari menuntut ilmu.
Ashar menawarkan harapan. Sebentar lagi kita sampai di rumah melepas penat. Berat langkah kaki kita berwudhu dan menyempurnakan shalat di awal waktu. Perasaan, hari2 lalu kita jarang terlambat shalat, maka menjadilah pemaafan untuk berleha karena kita telah "kenyang" dgn amalan shalih yg lalu.
Sebagian kita bergelut dgn tugas2 kuliah. Bahagian lagi berkutat di dapur. Ada juga yg menyalurkan hobi kesana-kemari. Padahal ada MP3 untuk memuraja'ah hafalan. Ada buku yg siap dibuka sampulnya untuk dibuka, ia teronggok lama tak tersentuh di lemari. Namun nampaknya mereka telah "kenyang" dari muraja'ah dan menuntut ilmu.
Maghrib datang. Tanduk Syaithan muncul. Makhluq jahat bertebaran. Nyaris saja tanpa minta penjagaan, karena merasa "kenyang" dgn seabreg agenda harian.
Syafaq merah telah menghilang. Mulailah kelelahan. Adzan bersahutan, benar2 tak menggetarkan bagi banyak mereka bahkan mungkin kita. Pasca itu, tertidur nyaris tanpa dzikir, witir, muraja'ah hafalan, dan baca buku. Karena itu tadi, "kenyang" dgn agenda yg sebenarnya penuh dgn isi status medsos atau buka gadget..
Begitu penuh "lambung" ilmu dan amal mereka, hingga secuil nasehat saja bak petir menyambar di siang bolong. Begitu merasa tersakiti. Karena tadi, telah merasa "kenyang" dgn segala kebaikan hingga "tak berhak" diberi nasehat lagi.
Bukan, itu bukan ketawadhu'an. Bukan pula jadi alasan. Namun itu bagian dari kesombongan dan keberpalingan. I'radh dari jalan Allah.
Bagaimana ia berhujjah, "saya awam", sementara semua fasilitas tersedia disisinya. Ada google. Ada rumpian kawan. Ada ilmu yg bertebaran. Ada majelis2 ilmu. Namun dasar "lambung" ilmu dan amalnya terasa telah kenyang dari semua itu..
Teringat dgn KalamNya..
ﺳَﺄَﺻْﺮِﻑُ ﻋَﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻲَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺘَﻜَﺒَّﺮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﻛُﻞَّ ﺁﻳَﺔٍ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﺍﻟﺮُّﺷْﺪِ ﻟَﺎ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭﻩُ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﻳَﺮَﻭْﺍ ﺳَﺒِﻴﻞَ ﺍﻟْﻐَﻲِّ ﻳَﺘَّﺨِﺬُﻭﻩُ ﺳَﺒِﻴﻠًﺎ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺬَّﺑُﻮﺍ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻏَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (Al-A'raf : 146)
Sebenarnya "lambung" mereka kenyang oleh apa?
Sebab tak demikian sifat yg dilukiskan Rasul tercinta shallaLlahu 'alayhi wasallam.
منهومان لا يشبعان : طالب علم وطالب دنيا
"Ada 2 orang yg begitu rakus dan tak pernah merasa kenyang: *penuntut ilmu (agama) dan pencari dunia*. (HR. Hakim)
Kalau mereka "kenyang" dari ilmu, maka mafhumnya adalah mereka bukan penuntut ilmu. Kalu bukan penuntut ilmu, maka berdasar hadits di atas ia berpredikat pencari dunia.
Ternyata, bukan mereka yg dilihat terlalu berlebihan dalam ilmu dan ibadah, namun orang2 inilah yg terlalu lekat dgn dunia dan merasa *"kenyang"* dari ilmu dan ibadah.
Itu bagian dari kesombongan dan keberpalingan. Mereka akan selalu tertutup dari ilmu dan hidayah selama masih ada sifat itu. Dan mereka akan bersimbah dgn "kepahitan" meski di tengah keberlimpahan, tiada lain karena keberpalingannya..
ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِﻱ ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻪُ ﻣَﻌِﻴﺸَﺔً ﺿَﻨْﻜًﺎ ﻭَﻧَﺤْﺸُﺮُﻩُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺃَﻋْﻤَﻰٰ
124. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaha : 124)
Teruslah rakus dalam menuntut ilmu. Teruslah istiqamah dalam menghamba padaNya. Sebab keberpalingan kita akan hal demikian dgn alasan "kenyang", akan membuat hati kita mati berkali². Dan itu lebih berat dari hidup itu sendiri..
اللهم اهدنا إلى سبيل الرشاد...
آمين
Komentar
Posting Komentar