Langsung ke konten utama

Menyebarkan Hadits yang Belum Diketahui Keshahihannya

*Menyebarkan Hadits yang Belum Diketahui Keshahihannya*

سؤال:
تأتيني كثير من الأحاديث على هاتفي ولا أعلم صحتها، فكيف أتأكد من صحتها؟ وهل يجوز أن أنشرها للناس ليستفيدوا منها وأنا لا أعلم صحتها؟

"Datang padaku banyak sekali hadits² melalui ponsel sementara aku tak tahu keshahihannya. Maka bagaimana aku memastikan keshahihannya?
Dan apakah boleh aku menyebarkannya kepada manusia agar mereka mengambil faedah dari hadits tersebut sementara aku tak tahu keshahihannya?"

الجواب:
إذا جاءك الحديث، أو سمعت حديثًا من خلال الهاتف أو من خلال متحدث إذا لم يكن من أهل العناية فعليك أن تتأكد، ولا يُنشر عن طريقك حديث لم يثبت عن النبي -عليه الصلاة والسلام- وتُضيفه إليه؛ لأنه جاء في الحديث الصحيح «من حدث عني بحديث يُرى أنه كذب فهو أحد الكاذبِين» في (مقدمة مسلم) [1/8]، فعلى الإنسان أن يحتاط ويهتم لهذا الأمر، ولا ينشر ولا يعمل إلا بحديث ثبت عن النبي -عليه الصلاة والسلام-. ويتأكد من صحتها من خلال مراجعة كتب الحديث: كتب السنة وكتب التخريج إذا كان متأهلًا لذلك، فإن لم يكن متأهلًا لذلك بأن كان لا يعرف كيف يتعامل مع كتب الحديث فإنه يَسأل عنها من يعرف ذلك، والله أعلم.

"Jika telah datang padamu hadits, atau engkau telah mendengar satu hadits melalui ponsel atau melalui orang yang berbicara, jika  Ia bukan orang yang dapat dipercaya (keilmuannya) maka wajib bagimu memastikan terlebih dahulu, dan tak boleh disebarkan olehmu satu hadits pun yang tidak tsabit dari Nabi -'alayhis shalaatu wassalaam- dan kau kaitkan dengan beliau. Karena telah datang hadits shahih:

_Sesiapa yang mengatakan dariku satu hadits saja, sementara disangka bahwasanya itu dusta, maka yang menyampaikan tersebut adalah salah satu dari para pendusta._ (Muqaddimah Muslim, 1/8)

Maka wajib bagi manusia agar berhati dan memperhatikan perkara ini. Tidak boleh menyebarkan dan mengamalkan kecuali berdasarkan hadits yang telah kokoh datangnya dari Nabi -'alayhis shalaatu wassalaam-.

Hendaknya ia memastikan terlebih dahulu keshahihannya dengan merujuk pada kitab-kitab hadits: kitab-kitab sunnah dan kitab-kitab takhrij jika ia ahli dalam hal tersebut. Namun jika ia bukan ahlinya (awam) untuk itu, yaitu bahwasanya ia tak mengerti bagaimana berinteraksi dengan kitab-kitab hadits, maka ia harus bertanya tentangnya pada yang mengerti. Wallahu A'lam."

==Syaikh Abdul Karim Khudhair, hafidzhahullah==
(Salah satu Muhaddits dan Ulama Besar Saudi Arabia)

Diterjemahkan dan ditulis ulang oleh:
✍🏻 _Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar Al-Atsariy_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perspektif Lain Mengenai Hukum Tukar Kado Anak Sekolah

Penanya: Ustadz, Apa Hukumnya tukar kado yang biasa dilakukan anak sekolah setiap akhir tahun ajaran? Jawaban: Bismillâh. Wash shalâtu wassalâmu 'alâ Rasûlillâhi, wa ba'du. Kita harus bedakan antara hadiah dan bai' (jual beli). Kalau hadiah itu, تمليك عين بلا عوض مع النقل إلى مكان الموهوب له إكراما “kepemilikan atas sesuatu 'ain (barang atau jasa) tanpa memberi ganti, beserta pindahnya 'ain yang dihadiahkan ke tangan orang yang diberi hadiah sebagai bentuk ikram (penghormatan/memuliakan).” [Al Mausû'ah al Kuwaitiyyah, 42/252] Dalam tukar menukar hadiah tak dipersyaratkan ijab qabul. Sementara jual beli dan hibah ada syarat ijab qabul. Imam an-Nawawi dalam Minhajnya mengatakan : وشرط الهبة إيجاب وقبول لفظا ولا يشترطان في الهدية “Disyaratkan ijab qabul secara lafazh dalam akad hibah namun tidak disyaratkan dalam hadiah” [Minhaj ath-Thalibin, 1/171] Sementara Jual beli itu, وشرعا مبادلة مال بطريق الاكتساب.  “(Jual beli) menurut syariat adalah mengganti harta dengan...

TAHSIN

*TAHSIN* Oleh : *_Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar_* Cukup lama sekali saya menunggu hasil Imtihan terakhir dari Ma'had. Setahun lebih dari hari ujian bukanlah waktu sedikit. Sempat hampir kecewa memang. Karena perjuangan selama 5 tahun mengalahkan ego diri dan berkompetisi dgn ribuan orang itu sangat keras. Bayangkan, dari sekian banyak orang hanya 13 orang yg berhasil masuk kelas Gurunda Dr. KH. Saiful Islam Mubaarak., Lc., MA. Namun, apalah arti mengetahui hasil itu, pikir saya. Toh semua ilmu yg didapat jauh lebih berharga dari selembar kertas yg tertulis nilai disana... Maka Alhamdulillah Allah  obati hati saya dan tak memikirkan itu lagi. Beruntung saya disibukkan oleh hafalan Quran. Sehingga penantian itu tak begitu menyayat bagai sembilu. Suatu hari, di waktu yg tak pernah terpikirkan sebelumnya akan bertemu sohib Ma'had di salah satu Mesjid di Bandung, saya bertemu dengannya. ...

Hukum Menanam Ari-Ari dan Menyalakan Lilin di atasnya

Pertanyaan: Ahsanallahu ilaika Ustadz. Izin bertanya. Bagaimana hukumnya mengubur ari-ari bayi yang baru lahir dan menyalakan lilin di atasnya? Syukran jaziilan. Jawaban: Bismillah. Wash shalaatu wassalaamu 'alaa Rasuulillaah. Wa Ba'du, Dimaklumi bahwa sebagian besar masyarakat awam masih mengamalkan beberapa ritual setelah melahirkan. Diantaranya sebagaimana yang disebutkan penanya, yaitu menanam ari-ari dan menyalakan lilin atau lampu di atasnya. Mari kita perhatikan keterangan para ulama mengenainya. Syamsuddin ar-Ramli mengatakan, ويسن دفن ما انفصل من حي لم يمت حالا أو ممن شك في موته كيد سارق وظفر وشعر ودم نحو فصد إكراما لصاحبها "Dan dianjurkan mengubur apa-apa yang terpisah (anggota badan) dari yang masih hidup dan belum mati dengan segera, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, dan darah semisal dari bekam atau fashdu, guna menghormati pemiliknya." [Nihayatul Muhtaj, 2/494-495: Mesir] Dari keterangan Imam ar-Ramli...