Langsung ke konten utama

STANDAR MINIMAL KITAB-KITAB YANG DIKUASAI PENUNTUT ILMU (Menurut Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wâdi'iy rahimahullâh)

📝 Seri : Fawaid

Penanya:
Ustadz, kami ini penuntut ilmu, InSyaaAllah. Kitab apa saja yang perlu kami pelajari minimalnya untuk dibaca dan difahami?

Jawaban:
Alhamdulillâh, wash shalâtu wassalâmu 'alal mab'ûtsi rahmatan lil 'âlamîn Nabiyyinâ Muhammadin wa 'alâ âlihi wa shahbihi ajma'în.

Ammâ ba'du,

Setiap 'Alim tentu memiliki rekomendasi yang berbeda-beda terkait kitab yang perlu dipelajari atau standar minimal bagi seorang penuntut ilmu. Namun dalam hal ini saya akan menukil salah satunya saja, yaitu dari Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'iy ('Alim dari Yaman).

Beliau memberikan saran sebagai standar minimal penuntut ilmu,

الكتب التي يبدأ بها طالب العلم المبتدئ -إذا كان يجيد القراءة والكتابة- أن يقرأ في «فتح المجيد شرح كتاب التوحيد» فهو كتاب عظيم .
وفي «العقيدة الواسطية» لشيخ الإسلام ابن تيمية .
وفي «القول المفيد» لأخينا محمد بن عبدالوهاب الوصابي .
وهكذا «بلوغ المرام» .
و «رياض الصالحين» .
فإذا قرأت في هذه الكتب فنفسك تتوق إلى كتب أخرى .
وإن استطعت أن تبدأ بحفظ القرآن ؛ فهو أفضل وأحسن .
ومسألة اللغة العربية لإخواننا الأعاجم فهي مهمة جدا ، فإذا كان الشخص أعجميا لا يحسن اللغة العربية ربما يأتيك شخص في هيئة إسلامية ، ويفسر لك القرآن على غير تفسيره ، كما حصل من المعتزلة.

"Kitab-kitab yang cocok untuk penuntut ilmu memulai dengannya--jika ia telah bagus dalam bacaan dan tulisan (arab)--hendaknya ia membaca kitab Fathul Majid syarh kitab Tauhid, ini kitab yang agung. Selanjutnya Al-'Aqîdah al-Wâsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Serta Al-Qaulul Mufîd karya saudara kami Syaikh Muhammad bin 'Abdil Wahhâb al-Wushâbiy.

Begitu pula Bulûghul Marâm dan Riyâdhush Shâlihîn.

Jika anda sudah membaca kitab-kitab ini, maka anda bisa beralih ke kitab lainnya.

Jika anda mampu menghafal Al-Quran terlebih dahulu, maka itu afdhal dan lebih baik.

Dan persoalan Bahasa Arab bagi saudara-saudara kita dari kalangan 'Ajam (non Arab) maka sangat penting sekali dipelajari lebih awal. Sebab jika seseorang itu 'Ajam dan tidak bisa bahasa Arab, bisa jadi ada orang yang datang dalam tampilan islam kemudian ia menafsirkan untuk anda Al-Quran tidak sebagaimana tafsiran yang sebenarnya, seperti tafsiran mu'tazilah (maka sangat berbahaya)." (https://muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2828)

Tentu masih banyak para ulama lain selain beliau rahimahullah yang bisa memberikan saran yang berbeda-beda. Namun yang penting dalam masalah ini adalah anda mengetahui bagaimana prioritasnya. Dan penjelasan singkat beliau semoga bisa jadi patokan.

Adapun kunci keberhasilan belajar jika dikembalikan kepada asalnya adalah mengikuti saran dari guru anda. Mereka yang lebih faham dalam menunjukkan jalan pada anda.

Dan saya ingatkan kembali, bahwa semua kitab yang direkomendasikan Syaikh Muqbil di atas haruslah dipelajari bersama guru.

Wallâhu Waliyyut Taufîq

Semoga bermanfaat.

Wa shallillâhumma 'alâ nabiyyil Musthafâ Muhammadin wa 'alâ âlihi wa shahbihi ahlash shidqi wal wafâ wasallama taslîman mazîdâ...

Akhukum,
Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar

Telegram:
https://t.me/Abu_Hazim

Youtube:
https://youtu.be/UCKlEi7EW8o

Blog:
http://muqrifaqih.blogspot.com

Website:
http://Islamqu.org

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perspektif Lain Mengenai Hukum Tukar Kado Anak Sekolah

Penanya: Ustadz, Apa Hukumnya tukar kado yang biasa dilakukan anak sekolah setiap akhir tahun ajaran? Jawaban: Bismillâh. Wash shalâtu wassalâmu 'alâ Rasûlillâhi, wa ba'du. Kita harus bedakan antara hadiah dan bai' (jual beli). Kalau hadiah itu, تمليك عين بلا عوض مع النقل إلى مكان الموهوب له إكراما “kepemilikan atas sesuatu 'ain (barang atau jasa) tanpa memberi ganti, beserta pindahnya 'ain yang dihadiahkan ke tangan orang yang diberi hadiah sebagai bentuk ikram (penghormatan/memuliakan).” [Al Mausû'ah al Kuwaitiyyah, 42/252] Dalam tukar menukar hadiah tak dipersyaratkan ijab qabul. Sementara jual beli dan hibah ada syarat ijab qabul. Imam an-Nawawi dalam Minhajnya mengatakan : وشرط الهبة إيجاب وقبول لفظا ولا يشترطان في الهدية “Disyaratkan ijab qabul secara lafazh dalam akad hibah namun tidak disyaratkan dalam hadiah” [Minhaj ath-Thalibin, 1/171] Sementara Jual beli itu, وشرعا مبادلة مال بطريق الاكتساب.  “(Jual beli) menurut syariat adalah mengganti harta dengan...

TAHSIN

*TAHSIN* Oleh : *_Abu Hāzim Mochamad Teguh Azhar_* Cukup lama sekali saya menunggu hasil Imtihan terakhir dari Ma'had. Setahun lebih dari hari ujian bukanlah waktu sedikit. Sempat hampir kecewa memang. Karena perjuangan selama 5 tahun mengalahkan ego diri dan berkompetisi dgn ribuan orang itu sangat keras. Bayangkan, dari sekian banyak orang hanya 13 orang yg berhasil masuk kelas Gurunda Dr. KH. Saiful Islam Mubaarak., Lc., MA. Namun, apalah arti mengetahui hasil itu, pikir saya. Toh semua ilmu yg didapat jauh lebih berharga dari selembar kertas yg tertulis nilai disana... Maka Alhamdulillah Allah  obati hati saya dan tak memikirkan itu lagi. Beruntung saya disibukkan oleh hafalan Quran. Sehingga penantian itu tak begitu menyayat bagai sembilu. Suatu hari, di waktu yg tak pernah terpikirkan sebelumnya akan bertemu sohib Ma'had di salah satu Mesjid di Bandung, saya bertemu dengannya. ...

Hukum Menanam Ari-Ari dan Menyalakan Lilin di atasnya

Pertanyaan: Ahsanallahu ilaika Ustadz. Izin bertanya. Bagaimana hukumnya mengubur ari-ari bayi yang baru lahir dan menyalakan lilin di atasnya? Syukran jaziilan. Jawaban: Bismillah. Wash shalaatu wassalaamu 'alaa Rasuulillaah. Wa Ba'du, Dimaklumi bahwa sebagian besar masyarakat awam masih mengamalkan beberapa ritual setelah melahirkan. Diantaranya sebagaimana yang disebutkan penanya, yaitu menanam ari-ari dan menyalakan lilin atau lampu di atasnya. Mari kita perhatikan keterangan para ulama mengenainya. Syamsuddin ar-Ramli mengatakan, ويسن دفن ما انفصل من حي لم يمت حالا أو ممن شك في موته كيد سارق وظفر وشعر ودم نحو فصد إكراما لصاحبها "Dan dianjurkan mengubur apa-apa yang terpisah (anggota badan) dari yang masih hidup dan belum mati dengan segera, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, dan darah semisal dari bekam atau fashdu, guna menghormati pemiliknya." [Nihayatul Muhtaj, 2/494-495: Mesir] Dari keterangan Imam ar-Ramli...