Jika kita perhatikan beberapa riwayat tentang wudhu, maka kita akan dapati bahwa Rasul shallallâhu 'alayhi wasallam terkadang melakukan 1, 2, atau 3 kali basuhan pada anggota-anggota wudhu yang dibasuh. Terkadang juga mengkombinasikan basuhan dalam sekali wudhu. Seperti hadits berikut ini,
...ثم أدخل يده في التور، فغسل وجهه ثلاثا، ثم أدخل يديه فغسلهما مرتين إلى المرفقين.
"...Kemudian beliau memasukkan tangannya ke bejana lalu membasuh wajahnya 3 kali. Terus beliau memasukkan kedua tangannya dan membasuh keduanya 2 kali hingga ke siku." [Al-Bukhâriy dan Muslim]
Berkata an-Nawawiy rahimahullah,
إن هذا جائز، ولكن المستحب تطهير الأعضاء كلها ثلاثا ثلاثا، وإنما كان مخالفتها في بعض الأوقات من النبي صلى الله عليه وسلم لبيان الجواز.
"Ini menunjukkan kebolehan. Akan tetapi yang mustahabb adalah membasuh seluruh anggota 3 kali 3 kali. Perbedaan basuhan di beberapa waktu dari Nabi shallallâhu 'alayhi wasllam hanyalah untuk menjelaskan KEBOLEHANNYA."
Namun yang menarik disini adalah faedah yang dikemukakan oleh Syaikh Ahmad Farîd dalam Fathil 'Allâm,
*الفائدة الأولى:* أن من السنة إسباغ الوضوء، أو الوضوء ثلاثا ثلاثا للفريضة وتخفيفه للنافلة، كما وصف ابن عباس رضي الله عنهما وضوء النبي صلى الله عليه وسلم عندما بات في بيت خالته ميمونة رضي الله عنها.
*الفائدة الثانية:* قال الإمام مالك رحمه الله: لا أحب الواحدة إلا من عالم، وذلك لأن الجاهل لو اقتصر على واحدة لا يتمها، فيكون في حكم غير المتطهر. والله أعلم.
" *Faedah Pertama:* bahwasanya bagian dari sunnah adalah memperbagus wudhu, atau wudhu dengan basuhan 3 kali 3 kali untuk shalat fardhu, dan meringankannya dengan 2 atau 1 kali untuk yang nafilah. Sebagaimana yang disifatkan Ibnu 'Abbas terkait wudhu Nabi shallallâhu 'alayhi wasallam ketika beliau menginap di rumah bibinya (Maimunah) radhiyallahu 'anha. *Faedah Kedua:* Berkata Imam Malik rahimahullah: Aku tak suka jika hanya 1 kali basuhan saja KECUALI DARI SEORANG 'ALIM. Hal itu karena orang jahil kalau mencukupkan diri dengan 1 kali basuhan ia tak akan bisa menyempurnakannya, hingga jadilah ia dihukumi bukan sedang bersuci! Wallâhu A'lam." [Fathul 'Allâm Syarhu 'Umdatil Ahkâm, hal 40 Cet. Daar Ibn al-Jawziy, Kairo]
Kesimpulan:
– Ragamnya jumlah basuhan dalam wudhu menunjukkan kebolehan melakukannya, begitu pula mengkombinasikan basuhan-basuhan tersebut dalam sekali wudhu.
– Bagian dari Sunnah adalah memperbagus wudhu. Salah satu bentuknya adalah Tatslits dalam ghasl, alias 3 kali basuhan. Sehingga yang lebih utama tentu dengan 3 kali basuhan.
– Seseorang boleh dengan 2 kali basuhan.
– Jika ia bukan 'Alim alias orang jahil, menurut Imam Malik hendaknya ia tidak mencukupkan diri dengan 1 kali basuhan karena dikhawatirkan IA TIDAK MENYEMPURNAKAN BASUHAN YANG SEKALI ITU.
Semoga bermanfaat...
Komentar
Posting Komentar