لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي
“Laknat Allâh kepada pemberi risywah [suap] dan penerimanya”. (HR. Ahmad, no. 6984; Ibnu Majah, no. 2313. Dishahihkan al-Albaniy dan Syu'aib al-Arnauth)
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.
“Rasulullah –Shallallahu'alaihi wa sallam– melaknat pemberi risywah [suap] dan penerimanya."(HR. Ahmad, no. 6532, 6778, 6830, ; Abu Dawud, no. 3582; Tirmidzi, no. 1337 ; Ibnu Hibban, no. 5077. Dishahihkan al-Albaniy dan Syu'aib al-Arnauth)
Kedua, Hadayal 'Ummāl [Hadiah untuk pegawai] yang masuk kategori Ghulūl [Gratifikasi/Harta Khianat].
Ini jenis pemberian di luar gaji pegawai –semisal guru dan lainnya– yang diberikan dan diterima diam-diam tanpa ada izin dari pihak yang memberi gaji atau pimpinan. Ini berpotensi pada pengkhianatan dan risywah. Jika seperti ini dihukumi haram. Rasulullah Shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda,
هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ
"Hadiah untuk pegawai termasuk Ghulul." (HR. Ahmad no. 23090, dishahihkan al-Albaniy dalam al-Irwā').
Biasanya dahulu istilah ghulul ini disematkan pada seseorang yang mengambil harta ghanimah sebelum diizinkan oleh pimpinan perang atau pemerintah. Kemudian dianalogikan pada para pegawai yang menerima pemberian di luar gaji tanpa izin pimpinan.
Ketiga, Hadayal 'Ummāl dengan izin dari pemerintah ataupun pimpinan Syarikah [perusahaan] dan Yayasan, atau juga yang telah biasa terjadi antar mereka.
Para ulama yang tergabung dalam Syabakah Islamiyyah mengatakan,
فما أهدي للموظف لأجل عمله هو من هدايا العمال، ولا يجوز له أخذه إلا إذا أذنت له في ذلك جهة عمله
"Maka apapun yang dihadiahkan untuk pegawai karena pekerjaannya termasuk hadayal 'ummāl, tidak boleh baginya untuk mengambilnya kecuali jika ia telah diizinkan untuk itu."
Ibnu Baththāl dalam Syarh Shahīh al-Bukhāriy mengatakan,
إلا أن يكون الإمام يبيح له قبول الهدية لنفسه، فلذلك تطيب له، كما قال -صلى الله عليه وسلم- لمعاذ، حين بعثه إلى اليمن: قد علمت الذي دار عليك في مالك، وإني قد طيبت لك الهدية. فقبلها معاذ وأتى بما أهدي له النبي -صلى الله عليه وسلم-، فوجده توفي، فأخبر بذلك أبا بكر فأجاز له أبو بكر ما كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أجاز له.
"[Hadayal 'Ummāl itu Ghulūl] kecuali pimpinan membolehkan untuk menerima hadiah tersebut, sehingga dengan sebab itu ia menikmatinya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda pada Mu'adz bin Jabal ketika beliau mengutusnya ke Yaman: Engkau telah mengetahui mana bagian hartamu, dan Aku izinkan kau menerima dan menikmati hadiah. Maka Mu'adz pun menerimanya, kemudian membawanya pada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tapi beliau keburu wafat. Maka Mu'adz pun mengabari perihalnya pada Abu Bakr, maka Abu Bakr pun membolehkannya karena Rasulullah telah membolehkannya."
Terdapat pula riwayat dan penjelasan lain yang senada dengan yang dijelaskan Ibnu Baththal di atas. Itu menunjukkan bolehnya pegawai menerima hadiah sepanjang diizinkan pimpinan. Jika dalam ranah Yayasan, maka diizinkan oleh pembina dan ketua yayasan; dan jika di ranah pemerintah, maka dari arah Waliyyul Amr.
Begitu pula dibolehkan menerima hadiah jika memang sudah terbiasa antara mereka saling berbagi hadiah karena teman, kakak atau adik kelas, tetangga, kerabat, atau karena rasa hormat [tanpa ada kaitan dengan nilai dan privilage lain].
Kesimpulannya, tidak setiap pemberian wali murid untuk guru itu terlarang secara mutlak, melainkan perlu dirinci. Agar tidak terjatuh pada sikap ekstrem tanpa ilmu dan kaidah sehingga malah mengharamkan yang telah Allah halalkan; itu sama saja bahayanya dengan menghalalkan yang Allah haramkan.
Semoga bermanfaat...
Beusi, 10 Muharram 1448 H.
Mochamad Teguh Azhar, S.Kom.I., Lc., MA.
Komentar
Posting Komentar