Langsung ke konten utama

Postingan

Syarat Mutlak Masuk Surga Adalah Terlebih Dahulu Jadi Hamba Allah

Allah Tabâraka wa Ta'âlâ menyeru jiwa yang muthmainnah dengan kalimah: فَٱدۡخُلِی فِی عِبَـٰدِی. وَٱدۡخُلِی جَنَّتِی "Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu." [Al Fajr: 29-30] Dalam Tafsir al-Wasîth dikatakan: أى فادخلي فى زمرة عبادي الصالحين المرضين . "Maksudnya masuklah ke dalam golongan hamba-hambaku yang shalih dan diridhai." [Tafsîr al-Wasîth] Al-Imâm al-Qurthubiy berkata, أي في أجساد عبادي دليله قراءة ابن عباس وابن مسعود . "Yaitu (Masuklah) ke dalam jasad hamba-hamba-Ku. Dalilnya adalah qiraatnya Ibnu 'Abbâs dan Ibnu Mas'ûd." [Al-Jâmi' li Ahkâm, 10/307, Dâr al-Hadîts: Kairo] Jika kita perhatikan ada faedah disini: 1. Untuk memasuki surgaNya maka syarat utamanya adalah menjadi hamba diantara hamba-hambaNya. Yakni berislam, beriman. Allah menyajikannya secara sederhana dan tidak njelimet. Tapi ini syarat mutlak. 2. Hamba-hambanya tersebut adalah para pelaku keshalihan sehingga diridhai. 3. Ruh-ruh mereka...
Postingan terbaru

Perspektif Lain Mengenai Hukum Tukar Kado Anak Sekolah

Penanya: Ustadz, Apa Hukumnya tukar kado yang biasa dilakukan anak sekolah setiap akhir tahun ajaran? Jawaban: Bismillâh. Wash shalâtu wassalâmu 'alâ Rasûlillâhi, wa ba'du. Kita harus bedakan antara hadiah dan bai' (jual beli). Kalau hadiah itu, تمليك عين بلا عوض مع النقل إلى مكان الموهوب له إكراما “kepemilikan atas sesuatu 'ain (barang atau jasa) tanpa memberi ganti, beserta pindahnya 'ain yang dihadiahkan ke tangan orang yang diberi hadiah sebagai bentuk ikram (penghormatan/memuliakan).” [Al Mausû'ah al Kuwaitiyyah, 42/252] Dalam tukar menukar hadiah tak dipersyaratkan ijab qabul. Sementara jual beli dan hibah ada syarat ijab qabul. Imam an-Nawawi dalam Minhajnya mengatakan : وشرط الهبة إيجاب وقبول لفظا ولا يشترطان في الهدية “Disyaratkan ijab qabul secara lafazh dalam akad hibah namun tidak disyaratkan dalam hadiah” [Minhaj ath-Thalibin, 1/171] Sementara Jual beli itu, وشرعا مبادلة مال بطريق الاكتساب.  “(Jual beli) menurut syariat adalah mengganti harta dengan...

Hukum Menanam Ari-Ari dan Menyalakan Lilin di atasnya

Pertanyaan: Ahsanallahu ilaika Ustadz. Izin bertanya. Bagaimana hukumnya mengubur ari-ari bayi yang baru lahir dan menyalakan lilin di atasnya? Syukran jaziilan. Jawaban: Bismillah. Wash shalaatu wassalaamu 'alaa Rasuulillaah. Wa Ba'du, Dimaklumi bahwa sebagian besar masyarakat awam masih mengamalkan beberapa ritual setelah melahirkan. Diantaranya sebagaimana yang disebutkan penanya, yaitu menanam ari-ari dan menyalakan lilin atau lampu di atasnya. Mari kita perhatikan keterangan para ulama mengenainya. Syamsuddin ar-Ramli mengatakan, ويسن دفن ما انفصل من حي لم يمت حالا أو ممن شك في موته كيد سارق وظفر وشعر ودم نحو فصد إكراما لصاحبها "Dan dianjurkan mengubur apa-apa yang terpisah (anggota badan) dari yang masih hidup dan belum mati dengan segera, atau dari orang yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, dan darah semisal dari bekam atau fashdu, guna menghormati pemiliknya." [Nihayatul Muhtaj, 2/494-495: Mesir] Dari keterangan Imam ar-Ramli...

Shiyam Syawwal Terlewat, Bagaimana Solusinya?

Oleh: Ust. Mochamad Teguh Azhar, S.Kom.I., Lc., MA. Shiyam enam hari di bulan syawwal hukumnya sunnah yang utama, namun bukan wajib. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,  عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ . Dari Abû Ayyûb al-Anshâriy radhiyallâhu 'anhu bahwasanya Rasûlullâh shallallâhu 'alayhi wasallam bersabda: "Sesiapa yang shaum Ramadhan kemudian menambah lagi enam hari di bulan syawwal itu seperti shaum setahun penuh." [Riwayat Muslim] Kalimat "seperti setahun penuh" menunjukkan bahwa ia afdhaliyyah (keutamaan). Sementara afdhaliyyah dalam amalan menunjukkan nadbiyyah (anjuran), bukan kewajiban. Demikian fuqaha Syafi'iyyah merumuskan. Adapun cara melaksanakannya bisa dengan berturut-turut, bisa juga dengan cara dipisah-pisah harinya. Disana ada kelapangan. Hanya saja yang menjadi ...

Faedah Seputar Basuhan Wudhu

Jika kita perhatikan beberapa riwayat tentang wudhu, maka kita akan dapati bahwa Rasul shallallâhu 'alayhi wasallam terkadang melakukan 1, 2, atau 3 kali basuhan pada anggota-anggota wudhu yang dibasuh. Terkadang juga mengkombinasikan basuhan dalam sekali wudhu. Seperti hadits berikut ini,  ...ثم أدخل يده في التور، فغسل وجهه ثلاثا، ثم أدخل يديه فغسلهما مرتين إلى المرفقين.  "...Kemudian beliau memasukkan tangannya ke bejana lalu membasuh wajahnya 3 kali. Terus beliau memasukkan kedua tangannya dan membasuh keduanya 2 kali hingga ke siku." [Al-Bukhâriy dan Muslim] Berkata an-Nawawiy rahimahullah, إن هذا جائز، ولكن المستحب تطهير الأعضاء كلها ثلاثا ثلاثا، وإنما كان مخالفتها في بعض الأوقات من النبي صلى الله عليه وسلم لبيان الجواز.  "Ini menunjukkan kebolehan. Akan tetapi yang mustahabb adalah membasuh seluruh anggota 3 kali 3 kali. Perbedaan basuhan di beberapa waktu dari Nabi shallallâhu 'alayhi wasllam hanyalah untuk menjelaskan KEBOLEHANNYA." Namun yang menari...

CARA MENCUCI DZAKAR SETELAH KENCING

Karena banyaknya ikhwah yang mengeluhkan tentang sisa (maaf) air kencing yang keluar pasca wudhu, maka al-Faqir memandang itu karena tidak berhati-hati dalam membersihkan dzakar salah satunya. Tentu bukan hanya itu yang menjadi alasan. Sebab beberapa fuqaha juga memberikan tips agar sisa air kencing bersih, diantaranya: Berdehem keras setelah selesai buang air, menggerak-gerakkan kaki  maju-mundur, dan sebagainya. Namun ada hal lain yang perlu al-Faqir ketengahkan, yaitu cara mencuci dzakar. Ini juga sering diremehkan. Bagaimana cara mencucinya? Kita simak penuturan Imam al-Ba'liy rahimahullâh...  Berkata al-Ba'liy dalam Kasyful Mukhaddarât yang merupakan Syarh Akhshar al-Mukhtasharât,  (و) سن (مسح الذكر بيده اليسرى إذا انقطع البول، من أصله) أي من حلقة دبره، فيضع إصبع يده اليسرى الوسطى تحت الذكر والإبهام فوقه ويمر بهما (إلى رأسه) أي الذكر (ثلاثا) لئلا يبقى فيه من البول شيء، (و) سن (نتره) أي الذكر – بالمثناة (ثلاثا) نصا ليسيتخرج بقية البول منه.  "Dan disun...

Kalam Para Salaf

Kalam Para Salaf Ditanyakan kepada Hamdûn bin Ahmad rahimahullâh, ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا؟ "Apa penyebab perkataan para Salaf lebih bermanfaat dari perkataan kita?" Maka beliau menjawab, لأنهم تكلَّموا لعزّ الإسلام ونجاة النفوس ورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس وطلب الدنيا ورضا الخلق. "Dikarenakan mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa-jiwa, dan ridha Ar-Rahmân. Sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri-diri kita, mengejar dunia, dan mengharap ridha makhluq." [Shifatu ash-Shafwah] ✍🏻 Abu Hâzim Mochamad Teguh Azhar (Mudir Ma'had Daar El 'Ilmi, Beusi) ==================== FB: https://www.facebook.com/mtazharia Youtube: https://youtu.be/UCKlEi7EW8o Telegram: https://t.me/Abu_Hazim Twitter: https://twitter.com/MochamadTeguhA1?s=09