Langsung ke konten utama

Syarat Mutlak Masuk Surga Adalah Terlebih Dahulu Jadi Hamba Allah

Allah Tabâraka wa Ta'âlâ menyeru jiwa yang muthmainnah dengan kalimah:

فَٱدۡخُلِی فِی عِبَـٰدِی. وَٱدۡخُلِی جَنَّتِی

"Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu." [Al Fajr: 29-30]

Dalam Tafsir al-Wasîth dikatakan:

أى فادخلي فى زمرة عبادي الصالحين المرضين .

"Maksudnya masuklah ke dalam golongan hamba-hambaku yang shalih dan diridhai." [Tafsîr al-Wasîth]

Al-Imâm al-Qurthubiy berkata,

أي في أجساد عبادي دليله قراءة ابن عباس وابن مسعود .

"Yaitu (Masuklah) ke dalam jasad hamba-hamba-Ku. Dalilnya adalah qiraatnya Ibnu 'Abbâs dan Ibnu Mas'ûd." [Al-Jâmi' li Ahkâm, 10/307, Dâr al-Hadîts: Kairo]

Jika kita perhatikan ada faedah disini:
1. Untuk memasuki surgaNya maka syarat utamanya adalah menjadi hamba diantara hamba-hambaNya. Yakni berislam, beriman. Allah menyajikannya secara sederhana dan tidak njelimet. Tapi ini syarat mutlak.
2. Hamba-hambanya tersebut adalah para pelaku keshalihan sehingga diridhai.
3. Ruh-ruh mereka akan memasuki kembali jasad-jasadnya kelak di hari kiamat.
4. Allah sebutkan "hamba-hambaKu", dengan redaksi jamak. Ini menunjukkan bukan hanya 1-2 orang yang masuk surga, tapi lebih dari itu. Aksentuasinya adalah saling mengajak ke surga ketika di dunia dengan nasehat, dakwah, dsb.

Wallahu Waliyyut Taufiiq..

✒️ Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, MA.

#Fawaid_Quraniyyah
#Fawaid_Ilmiyyah

—UMTA Official—
====================

WA Grup (Ikhwan):
https://chat.whatsapp.com/JysQ9SbDyWH1xSTsLWChg2

WA Grup (Akhawat):
https://chat.whatsapp.com/KlfvXgBSZTC9CHGMfElggP

Telegram:
https://t.me/Abu_Hazim

Boleh disebarkan kembali, semoga menjadi amal jariyah...

بارك الله فيكم

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH SEMUA BENTUK PEMBERIAN PADA GURU MUTLAK TERLARANG?

Pertanyaan: "Ustadz, para Wali Murid berencana untuk memberi hadiah pada para guru sebagai bentuk terima kasih, apakah diperbolehkan oleh syari'at?" Jawaban: Alhamdulillah, washshalātu wassalāmu 'alā Rasūlillāh, Ammā ba'du. Para Wali Murid yang dirahmati Allah Jalla wa 'Alā... Dimaklumi bahwa berbuat kebaikan semisal memberi hadiah adalah salah satu yang dianjurkan dalam Islam. Akan tetapi kita harus memperhatikan status orang yang menerima hadiah tersebut dalam timbangan syari'at; apakah layak menerimanya atau justru terlarang karena alasan tertentu? Berikut adalah penjelasannya... HADIAH UNTUK PEGAWAI Salah satu sasaran yang menerima hadiah diantaranya para pegawai ['Ummāl], dalam konteks pertanyaan seperti para guru sebagai contoh. Para guru di sebuah sekolah biasanya diberi gaji, baik ia sebagai ASN maupun Swasta [Yayasan]. Maka jenis pemberian hadiah pada mereka terbagi menjadi 3 bagian: Pertama , Risywah [suap/sogokan]. Jenis hadiah ini terjadi a...

SAH-KAH JIKA KITA MENJUAL PADI YANG BELUM DIZAKATI PADAHAL SUDAH MASUK NISHAB?

Pertanyaan: "Ustadz, ketika panen padi Alhamdulillah hasilnya bisa sampai nishab. Namun kami butuh segera menjualnya, sehingga belum sempat kami zakati keburu terjual. Secara hukum, sah-kah jual beli kami tersebut? Jawaban: Alhamdulillāh washshalātu wassalāmu 'alā Rasūlillāh, ammā ba'du. Diantara hal yang patut difahami oleh kaum muslimin, dan ini pendapat yang kami pilih, adalah bahwasanya harta ataupun hasil pertanian yang wajib dizakati tersebar pada keseluruhan harta tersebut. Sehingga ketika anda menjual barang tersebut [padi contohnya] maka transaksi anda tidaklah sah [batal], sebab ada hak mustahiqqīn di dalam barang yang anda jual. Zakariyya al-Anshāriy rahimahullāh dalam Fathul Wahhāb menuliskan, ولو باعه أي ما تعلقت به الزكاة أو بعضه قبل إخراجها بطل في قدرها وإن أبقى في الثانية قدرها لأن حق المستحقين شائع فأي قدر باعه كان حقه وحقهم. "Jika ia menjual harta yang terkait zakat atau sebagiannya sebelum zakat dikeluarkan, maka batal pada kadar zakat. Apabila ia m...

BOLEHKAH MENGAMBIL MANFAAT DARI MENYEWAKAN RUMAH YANG DIBANGUN DENGAN DANA RIBA?

Pertanyaan: "Ustadz, saya punya rumah. Hanya saja ia dibangun dengan dana riba, karena tidak tahu kalau itu riba. Rencananya rumah itu mau saya sewakan, agar saya bisa segera melunasi utang riba tersebut. Bolehkah saya menyewakannya?" –Hamba Allah, Majalengka.– Jawaban: Alhamdulillah, washshalātu wassalāmu 'alā Rasūlillāhi, Ammā ba'du. Penanya yang dirahmati Allah 'Azza wa Jalla... Intifa ' atau mengambil manfaat dari rumah yang dibangun dari hasil berutang dengan skema ribawi tidaklah mengapa , seperti menyewakannya pada yang lainnya. Anda bukanlah pihak yang memakan harta riba tersebut [ Ākil ar-Ribā ], melainkan pihak yang dimakan hartanya [ Mūkil ar-Ribā ]. Bagi Mūkil ar-Ribā dipersyaratkan taubat saja ketika hendak keluar dari dosa riba. Berbeda dengan Ākil ar-Ribā, selain taubat ia juga harus mengeluarkan harta yang telah dimakan atau dikonsumsinya sebesar ribanya; jika ia sudah tahu sedari awal bahwa itu transaksi ribawi. Syaikh Ibn 'Utsaimin rahima...